Tepat di pagi ini, saya kembali mengingat perjalanan hidup yang membawa saya sampai ke titik sekarang.
Saya lahir dari keluarga sederhana. Ibu saya lulusan SMP, sedangkan bapak saya lulusan SD. Secara ekonomi, kami bukan keluarga yang berkecukupan. Namun ada satu hal yang selalu menjadi pegangan dalam keluarga kami: pantang menyerah, bertanggung jawab, dan menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama.

Mama saya adalah sosok yang sangat keras dalam mendidik anak-anaknya. Bukan karena tidak sayang, tetapi karena beliau ingin anak-anaknya memiliki masa depan yang lebih baik. Beliau selalu berusaha memastikan kami mendapatkan pendidikan yang layak dan kesempatan untuk berkembang.
Sementara itu, bapak saya menghabiskan sebagian besar hidupnya di jalan. Dari mengemudikan truk kecil, truk engkel, tronton, hingga trailer, beliau bekerja siang dan malam demi keluarga. Dari beliau, saya belajar bahwa tanggung jawab tidak selalu diajarkan lewat kata-kata, tetapi melalui contoh nyata.
Saya tumbuh di keluarga yang mungkin sederhana dalam materi, tetapi kaya akan mimpi dan harapan. Di rumah kami, pendidikan selalu menjadi nomor satu. Apa pun akan diusahakan selama anak-anaknya bisa terus belajar.
Perjalanan saya menuju pendidikan tinggi tidak berjalan mulus. Setelah lulus SMK, saya tidak langsung melanjutkan kuliah. Saya menjalani masa gap year selama dua tahun. Di masa itu, saya mencoba banyak hal. Saya pernah ikut bapak menjadi kernet, mencari berbagai peluang beasiswa, bekerja freelance, membantu guru sebagai technical support, hingga bekerja di sebuah startup dengan gaji sekitar Rp40.000 per hari.
Bagi sebagian orang mungkin jumlah itu sangat kecil. Namun bagi saya saat itu, pekerjaan tersebut adalah tempat belajar. Saya sadar kemampuan saya masih terbatas dan saya harus terus berkembang.
Di tengah berbagai proses tersebut, saya terus menyimpan satu keyakinan: saya ingin mengubah keadaan melalui pendidikan.
Alhamdulillah, Allah membuka jalan. Saya mendapatkan kesempatan untuk belajar di IDN melalui program beasiswa dan akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana.
Saya masih ingat beberapa tahun lalu, sekitar 2023 atau 2024, saya pernah mengatakan di depan teman-teman:
“Mas, saya anak sopir. InsyaAllah suatu saat saya bisa mendapatkan kesempatan ikut Backpacker.”
Saat itu saya sendiri tidak tahu apakah ucapan tersebut akan menjadi kenyataan atau tidak. Mungkin ada yang menganggapnya hanya candaan atau mimpi yang terlalu tinggi. Namun saya selalu percaya bahwa ucapan yang baik adalah doa.
Hari ini, ketika saya dan tim panitia sedang mempersiapkan program Backpacker 20 Negara, saya kembali teringat ucapan tersebut. Rasanya luar biasa melihat bagaimana Allah memperjalankan hidup dengan cara yang tidak pernah kita duga.
Karena itu, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada bapak dan mama saya.
Terima kasih karena telah memberikan pendidikan yang tidak hanya berasal dari sekolah, tetapi juga dari kehidupan. Terima kasih karena selalu memberi ruang bagi saya untuk mencoba, gagal, belajar, dan bertumbuh.
Saya masih ingat ketika lulus SMK, mama pernah berkata:
“Kamu bebas menentukan jalanmu sendiri. Mau mencari beasiswa, mengikuti pelatihan, atau mencoba kesempatan lain, silakan. Tapi Mama kasih waktu satu tahun. Setelah itu, kamu harus bekerja.”
Kalimat sederhana itu justru menjadi bentuk kepercayaan terbesar yang pernah saya terima.
Dari sanalah semuanya dimulai.
Hari ini saya menyadari bahwa latar belakang bukanlah batasan. Menjadi anak seorang sopir truk dan ibu rumah tangga tidak pernah menghalangi seseorang untuk memiliki mimpi besar.
Perjalanan ini masih panjang. Backpacker 20 Negara hanyalah salah satu bagian kecil dari perjalanan tersebut. Namun saya berharap setiap langkah yang sedang kami persiapkan dapat memberikan manfaat, bukan hanya bagi saya dan tim panitia, tetapi juga bagi seluruh peserta yang akan terlibat di dalamnya.
Semoga semua doa baik, usaha baik, dan harapan baik yang telah dipanjatkan dapat diwujudkan oleh Allah SWT pada waktu yang terbaik.
Dan semoga perjalanan ini menjadi bukti bahwa mimpi besar bisa lahir dari keluarga yang sederhana, selama ada keberanian untuk berusaha dan keyakinan untuk terus melangkah. 🤍