Link copied to clipboard!
Educator Milestone • Jun 03, 2026

Guru Versus Murid

Tio Risnanto, S.Kom
IT Teacher at IDN

Setelah menuliskan cerita tentang orang tua dan perjalanan hidup saya, ada satu bagian yang rasanya tidak boleh terlewat. Di balik setiap proses yang saya jalani hingga hari ini, ada sosok guru yang ikut mengambil peran besar dalam perjalanan tersebut.

Beliau adalah guru saya saat SMK, seorang guru Network Engineer yang mengajar mata pelajaran Rancang Bangun Jaringan.

Suatu hari, kami mendapatkan ujian praktik Mikrotik. Tantangannya sederhana tetapi cukup menantang pada saat itu. Kami harus menghubungkan Mikrotik milik masing-masing siswa ke Mikrotik milik guru, kemudian melakukan proses printing melalui jaringan yang sudah dikonfigurasi.

Saat ujian berlangsung, saya mengalami kendala. Bukan karena konfigurasi jaringan yang salah, melainkan karena masalah teknis pada laptop saya. Microsoft Word yang saya gunakan ternyata membutuhkan aktivasi lisensi untuk dapat melakukan proses cetak. Akibatnya, waktu habis sebelum saya berhasil menyelesaikan tugas tersebut.

Saya gagal.

Namun yang menarik, remedial yang diberikan oleh guru saya tidak seperti remedial pada umumnya.

Siswa yang gagal harus menyerahkan handphone kepada beliau dan menghafalkan sepuluh ayat Al-Qur'an. Handphone tersebut akan disimpan selama beberapa hari hingga siswa berhasil menyelesaikan remedial.

Saat itu, dengan penuh tanggung jawab, saya menyerahkan handphone saya kepada beliau. Tidak ada protes, tidak ada alasan. Saya sadar bahwa saya memang belum berhasil menyelesaikan tugas yang diberikan.

Ketika saya menceritakan hal tersebut kepada mama, beliau sempat kaget.

"Lho, kok bisa HP disita?"

Saya menjawab, "Karena gagal ujian."

Mama hanya berkata, "Ya berarti kamu harus lebih giat lagi. Harus bisa." tanpa banyak cacicu

Sederhana, tetapi menancap dalam pikiran saya.

Beberapa hari kemudian, remedial dilaksanakan. Alhamdulillah saya berhasil menyelesaikannya dan handphone saya dikembalikan.

Dari kejadian itu saya mulai memahami satu hal penting: setiap tindakan memiliki konsekuensi, dan setiap konsekuensi harus dipertanggungjawabkan.

Apa yang dulu terasa menyebalkan, sekarang justru menjadi pelajaran berharga tentang tanggung jawab dan komitmen.

Sejak saat itu hubungan saya dengan guru tersebut menjadi semakin dekat.

Tidak lama kemudian, beliau mengajak saya dan beberapa teman untuk membantu sebuah proyek di RSUD 45 Kuningan. Kami diminta membantu pekerjaan yang berkaitan dengan perangkat dan jaringan komputer rumah sakit.

Bagi saya yang saat itu masih siswa SMK, kesempatan tersebut terasa luar biasa.

Yang menarik, ketika proyek selesai, beliau bertanya kepada saya,

"Honornya mau apa, Mas?"

Teman-teman saya memilih menerima uang tunai. Saya sendiri tidak terlalu memikirkan uang. Saat itu saya hanya menjawab,

"Pak, saya butuh gamis dua."

Beliau langsung mengiyakan.

Setelah honor proyek cair, beliau bahkan mengajak saya membeli gamis tersebut bersama istrinya, yang kebetulan juga guru di sekolah saya.

Hari itu saya mendapatkan dua gamis, satu berwarna krem dan satu berwarna biru dongker.

 

Mungkin bagi sebagian orang itu hal biasa. Namun bagi saya, hadiah tersebut sangat berkesan. Bukan karena nilai barangnya, tetapi karena saya mendapatkannya dari hasil belajar, bekerja, dan kepercayaan seorang guru.

Pengalaman di rumah sakit itu sendiri juga sangat berharga. Selama dua hari dua malam kami membantu berbagai pekerjaan teknis. Saya melihat langsung bagaimana sistem jaringan di lingkungan rumah sakit bekerja.

Yang membuat saya semakin kagum adalah kenyataan bahwa masalah utama jaringan yang sedang kami tangani sebenarnya berhasil diselesaikan oleh guru saya hanya dalam waktu sekitar dua jam.

Saat itu saya benar-benar menyadari betapa luasnya ilmu dan pengalaman yang beliau miliki.

Hubungan kami tidak berhenti di sekolah saja. Beberapa kali saya bahkan pernah menginap di rumah beliau untuk belajar bersama.

Menginapnya pun sederhana. Bukan di kamar, melainkan di atas Colt Bak dengan kelambu nyamuk. Saya bersama teman saya, Mas Alam.

Hari ini Mas Alam sudah menjadi programmer yang sukses dan menangani berbagai proyek besar. Dari situ saya belajar bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Proses setiap orang berbeda, tetapi siapa yang terus belajar akan menemukan jalannya sendiri.

Ada satu momen lain yang juga sangat berpengaruh dalam hidup saya.

Suatu ketika, guru saya memberi informasi tentang pelatihan Android di IDN Jonggol. Saat itu saya masih kelas 12 dan pelatihannya dilaksanakan hanya sekitar seminggu sebelum ujian praktik sekolah.

Biaya pelatihan saat itu Rp200.000.

Bagi sebagian orang mungkin tidak terlalu besar, tetapi bagi saya saat itu jumlah tersebut cukup berat. Saya hanya memiliki tabungan Rp100.000.

Tanpa banyak bicara, guru saya meminjamkan kekurangannya.

Akhirnya saya berangkat.

Saya menumpang kendaraan teman bapak saya menuju Bogor, lalu melanjutkan perjalanan dari Gunung Putri ke IDN Jonggol menggunakan angkutan umum.

Sesampainya di sana, saya cukup terkejut.

Ternyata peserta dari tingkat SMK hanya saya seorang. Peserta lainnya berasal dari kalangan mahasiswa, dosen, dan masyarakat umum.

Saya masih ingat pelatihan tersebut dilaksanakan di area dapur.

Mungkin tempatnya sederhana, tetapi dampaknya luar biasa.

Dari sanalah saya mulai mengenal IDN.

Dari sanalah saya mulai melihat dunia yang lebih luas.

Dan dari sanalah saya mulai benar-benar tertarik berpindah haluan dari dunia TKJ menuju dunia pemrograman.

Jika hari ini saya bisa sampai di titik sekarang, maka salah satu orang yang sangat berjasa dalam perjalanan tersebut adalah guru saya.

Beliau bukan hanya mengajarkan materi pelajaran.

Beliau mengajarkan tanggung jawab.

Beliau mengajarkan konsekuensi.

Beliau mengajarkan keberanian untuk mencoba.

Beliau mengajarkan bahwa belajar tidak berhenti ketika jam pelajaran selesai.

Terima kasih, Pak.

Terima kasih karena sudah ikut andil dalam proses bertumbuh saya.

Terima kasih karena telah mempercayai saya ketika saya sendiri belum sepenuhnya percaya pada kemampuan saya.

Dan terima kasih karena telah menjadi salah satu guru yang tidak hanya mengajar, tetapi juga mengubah arah hidup seorang murid.

Share this story

More about Tio Risnanto, S.Kom

Discover other milestones and professional background.

View Full Profile
Home
Tanya Kolaborasi / Sponsorship
Tanya Asisten AI
Tanya IDN Traveller

Asisten AI โ€ข Online

Traffic
Online 3
Today 61
Yesterday 62
Total 665